Tentang Februari dan Cinta Yang Utuh

Ini kejadian yang langka. Tiba-tiba saja ia datang menyapa. Menepuk pundak saya. Hampir saja jantung ini jatuh mendadak. Saya tahu dia adalah Februari. Tampak jelas dari tubuhnya yang tak utuh setelah orang-orang romawi kuno memenggal sepasang angka di kakinya. Tanpa memberi salam, tanpa basa-basi seperti seorang teman lama yang baru berjumpa, ia langsung mengatakan “ngobrol yuk!”

Tentu saja saya tak ingin menyia-nyiakan kesempatan ini. Kapan lagi saya bisa berbicara seperti ini dengan Februari. Saya lalu membukanya dengan pertanyaan tentang hal-hal  yang membingungkan saya selama ini.

***

Apa yang membuatmu tetap bertahan bertahun-tahun dalam penanggalan, meski sepasang angka di tubuhmu diam-diam meningalkanmu entah ke mana?

Daun-daun akan luruh, rambut-rambut akan memutih lalu jatuh, dan gigi-gigi akan runtuh satu-persatu, ada beberapa hal pada akhirnya akan tanggal, dan ada yang akan tetap tinggal –meski tak utuh. Hanya cinta yang dapat membuat kita tetap utuh.

Cinta, cinta. Baiklah. Mari kita bicara tentang cinta. Menurutmu, cinta itu apa?

Ini pertanyaan yang sederhana, tetapi jawaban atas pertanyaan tentang cinta selalu berbeda-beda. Kau harus tahu, cinta itu tak pernah sama. Bahkan di zaman modern, para psikolog membagi-bagi cinta dalam delapan kelompok. Barangkali kau pernah mendengar kata seperti ini; Agape, Mania, Pragma, Philautia, Storge, Eros, Philia, dan Ludus.

Wah, menarik. Bolehkah kau menjelaskannya satu-persatu?

Kalau saya menjelaskan satu-persatu, itu membutuhkan waktu yang panjang. Kenapa tidak kau tanyakan saja sama mesin pencari yang serba tahu di abad 21 ini? Kau sungguh anak yang malas.

Begini saja. Bagaimana kalau saya menceritakan tentang seorang teman yang sama sepertimu. Setelah itu, kau hanya perlu menyebutnya, ia termasuk ke dalam kelompok cinta yang mana. Bagaimana menurutmu?

Ha-ha-ha, apakah pasar yang mengajarkanmu bernegosiasi? Baiklah, tawaranmu diterima. Silakan!

Saya punya seorang teman dengan kaki yang tak utuh, persis sepertimu. Di negara ini, orang-orang menyebutnya dengan istilah “penyandang disabilitas.”

Ya, terus? Apakah kau mulai membeda-bedakan kita berdasarkan bentuk tubuh?

Bukan begitu, maksudku. Menurutmu, bagaimana mungkin kita bisa mencintai seseorang yang memiliki tubuh tak utuh?

Kau melangkah terlalu jauh. Cinta, seperti yang kuungkapkan sebelumnya, memang dikelompokkan berbeda-beda agar kau mampu memahami, kau berada di kelompok cinta yang mana, tetapi yang harus kau pahami, cinta itu tidak membeda-bedakan. Sejujurnya, saya kurang sepakat dengan pengelompokan-pengelompokan cinta itu, tetapi sesuai dengan pertanyaanmu sebelumnya, jika kau mencintai seseorang tanpa memandang alasan fisik, itu termasuk dalam cinta Storge.

Baiklah, apakah boleh saya melanjutkan pertanyaan ini?

Silakan, bahkan sampai kau mengerti apa itu cinta.

Menurutmu, apakah dengan pemerintah mengadakan Asean Para Games, itu juga termasuk cinta?

Sulit memahami cinta, lebih sulit memahami pemerintah. Mengenai Asean Para Games, tentu saja kita bisa beranggapan bahwa itu adalah salah satu bentuk membedakan-bedakan kita secara tak sadar. Di sisi lain, kau juga bisa menganggap bahwa hal seperti itu adalah bentuk cinta yang ditunjukkan oleh pemerintah terhadap orang-orang yang dianggap penyandang disabilitas, orang-orang yang dianggap berbeda, atau orang-orang yang selalu dipandang sebelah mata. Kau lihat sendiri, kan, hasilnya? Orang-orang mencintai event tersebut. Itu artinya, di hadapan cinta, kita semua sama. Sama-sama perlu ruang untuk berkarya dan berekspresi.

Ini pertanyaan terakhir.

Apakah kau sudah mengerti tentang cinta?

Ha-ha-ha. Kau banyak bicara rupanya. Saya ingin memberikan kado valentine untuk seseorang, kira-kira, apa yang menarik untuk saya berikan kepadanya?

Jangan memberinya cokelat, itu cara lama. Berilah dia apa saja, buku tulis misalnya agar dia bisa menuliskan sajak-sajak untukmu. Berilah, apa saja. Cinta itu memberi.


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *